Berpikir tingkat tinggi, materi real geografi, dan kependidikan.

Friday, 19 June 2015

PERTANYAAN TINGKAT TINGGI JENJANG SEKOLAH DASAR


Sudah menjadi hal yang umum jika siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dituntut untuk menghafal materi. Teori yang mendukung diantaranya terkait masa-masa keemasan dilalui manusia dalam usia tersebut, sehingga anak sangat mudah dan cepat dalam menghafal sesuatu. Selain itu, hal yang dipelajari di SD merupakan hal-hal dasar yang nantinya sangat mungkin dimanfaatkan jangka panjang (nama hari, bulan, tahun kabisat, huruf dan angka, dll), sehingga jenjang SD  terutama kelas bawah sangat dianjurkan untuk menghafal materi.

Awalnya takterpikirkan sama sekali menuntut siswa Sekolah Dasar (SD) berpikir tingkat tinggi. Anggapan yang demikian perlu diluruskan. Pertanyaan tingkat tinggi bukanlah pertanyaan yang rumit untuk dijawab, melainkan rumit untuk dibuat. Namun sekali lagi, kesulitan itu hanyalah awal yang lama-kelamaan akan terhapus oleh keterbiasaan. Yang terpenting, guru harus mencoba dan memulai membuat. Karena hal yang paling sulit dilakukan adalah memulai sesuatu.

Pada posting-posting sebelumnya telah dijelaskan indikator-indikator berpikir tingkat tinggi untuk jenjang SMP dan SMA. Indikator-indikator tersebut antara lain, mengaitkan untuk kemampuan analisa, menilai untuk kemampuan evaluasi, dan mengkreasi untuk kemampuan sintesa. Indikator-indikator tersebut tentu terlalu kompleks untuk siswa jenjang SD. Oleh karena itu, perlu menyederhanakan kata kerja operasional (KKO), agar lebih memudahkan guru menyusun pertanyaan tingkat tinggi. Berpikir tingkat tinggi tidak hanya dilakukan di sekolah. Orang tua pun, dapat melatih anak di rumah.

Sejauh yang telah saya pelajari, sementara ini baru bisa menyajikan pertanyaan tingkat tinggi kemampuan C5 (evaluasi) dan C6 (sintesa). Untuk kemampuan sintesa, indikator sederhana untuk jenjang SD yaitu membedakan, mengelompokkan, dan mengurutkan. Berikut akan disajikan beberapa contoh untuk jenjang kelas bawah (I, II, III SD).
1. Manakah jenis kendaraan yang berbeda? (Mobil, sepeda motor, perahu, becak. Kemampuan membedakan mata pelajaran  IPS kelas III SD).
2. Kelompokkan benda-benda berikut berdasarkan bentuknya! (Kemampuan mengelompokkan mata pelajaran matematika kelas II).
3. Perhatikan gambar di bawah! Urutkan bangun datar berikut dari jumlah sisi yang sedikit! (Kemampuan mengurutkan mata pelajaran matematikan kelas II SD).
Selanjutnya, indikator kemampuan sintesa untuk jenjang SD disederhanakan, salah satunya menjadi kemampuan menyusun sesuatu. Hal yang perlu digaris bawahi, guru atau orang tua dilarang mendikte siswa/anak dalam menyusun. Jika hal itu dilakukan, kemampuan yang dialami siswa/anak akan berubah menjadi kemampuan meniru (kemampuan terendah tingkatan berpikir:C1). Guru/orang tua hanya sebagai pendamping/fasilitator. berikut salah satu contohnya.

1. Perhatikan daftar huruf berikut:
  P K E U L R B I A G N

Susunlah beberapa kata baru yang mungkin terbentuk dari daftar kata di atas!

Untuk membuat pertanyaan yang menuntut siswa berpikir tingkat sintesa, guru harus membuat pertanyaan dengan jumlah kemungkinan jawaban bervariasi. Berpikir tingkat tinggi bagi anak juga dapat dilakukan di rumah dengan dampingan orang tua. Permainan-permainan di rumah, beberapa ada yang menuntut anak berpikir tingkat sintesa, salah satu contohnya ialah lego.

Terbatasnya pengetahuan saya terhadap materi sangat memengaruhi  jumlah pertanyaan tingkat tinggi dibahas pada postingan kali ini. Untuk membuat pertanyaan tingkat tinggi jenjang SD jauh lebih sulit dibandingkan jenjang SMP dan SMA, sehingga saya sangat berharap partisipasi guru terutama SD untuk sharing soal yang menuntut siswa berpikir tingkat tinggi untuk jenjang SD. Saran dan kritik sangat saya harapkan, semoga bermanfaat.

Thursday, 11 June 2015

PERGURUAN TINGGI, DUNIA BARU BAGI SISWA CALON MAHASISWA


Perguruan tinggi merupakan dunia yang sangat berbeda dengan dunia sekolah. Saat memasuki dunia perguruan tinggi, sikap tanggungjawab seseorang akan diuji. Terlebih bagi mahasiswa yang berkuliah di luar kota. Mengapa demikian? Akan banyak waktu luang bagi mahasiswa, karena jam belajar/kuliah di kampus lebih sedikit dengan waktu yang terpisah-pisah. Kondisi yang demikian tentu sangat berbeda dengan pendidikan di sekolah yang terjadi dalam satu waktu berkelanjutan dari pagi hingga siang hari. Oleh karena itu, sangat perlu memersiapkan sikap dan perilaku tanggungjawab sebelum memasuki pendidikan di perguruan tinggi.

Perbedaan selanjutnya ialah terkait keorganisasian. Kegiatan keorganisasian melatih bagaimana seseorang hidup bermasyarakat. Melatih tanggungjawab  dan bersosialisasi dengan teman-teman anggota lainnya. Seorang anak telah dilatih berorganisasi sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam sebuah organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Kondisi demikian ini juga kembali dialami siswa ketika masuk sekolah menegah atas (SMA). Namun, kondisi organisasi di perguruan tinggi sangatlah berbeda. 

Terdapat tiga jenis organisasi dalam perguruan tinggi, yakni terkait bakat minat (intra kampus nonpemerintah), organisasi intra kampus kepemerintahan, dan organisasi ekstra kampus. Organisasi bakat minat dijenjang SMP dan SMA biasa disebut ekstrakurikuler, jika di perguruan tinggi disebut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Beberapa contoh UKM antara lain: Bela diri (Merpati putih, Karate, Taekwondo, dll), Kesenian (Musik, kentrung, ludruk, dll), Olahraga nonbeladiri (Voli, futsal, sepak bola, takraw), kedisiplinan (Resimen mahasiswa, Pramuka), dan beberapa kegiatan lain seperti fotografi, KSR (PMR), dll. Berbeda dengan ekstrakurikuler sekolah, UKM mengelola dan mengusahakan sendiri kebutuhan rumah tangga organisasinya, sehingga gerak dan kekompakan anggota sangatlah diperlukan. 

Organisasi jenis kedua yakni ekstra kampus. Organisasi ekstra kampus dapat berbentuk perkumpulan mahasiswa sesuai daerah asal atau organisasi keagamaan. Mengikuti  organisasi perkumpulan menurut daerah asal, memungkinkan para mahasiswa baru (maba) belajar banyak dari kakak-kakak mahasiswanya. Karena dunia perguruan tinggi sama sekali baru bagi maba, maka banyak hal yang perlu dipelajari. Beberapa contohnya terkait bidang akademis seperti cara menyusun Kartu Rencana Studi (KRS), memilih mata kuliah semester tertentu, pengajuan proposal karya ilmiah, hingga hal-hal lain seperti strategi mendapatkan beasiswa, istilah-istilah perguruan dalam perguruan tinggi dan bagaimana bertahanan hidup (kondisi jalan sekitar kampus, pekerjaan paruh waktu, makanan dan lokasi kost aman nyaman murah meriah, dll).

Organisasi ekstra kampus selanjutnya yakni organisasi keagamaan. Contoh jenis oganisasinya antara lain: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan lain sebagainya. Dalam organisasi tersebut pastinya kita akan mendapat siraman rohani berupa materi keagamaan dalam periode harian atau mingguan. Seperti halnya UKM, organisasi keagamaan juga mandiri dalam mengurus rumah tangga organisasinya. Organisasi ini juga melatih mahasiswa berpolitik sehingga  taksedikit orang eksekutif partai nasional dan dewan terhormat senayan terlahir dari organisasi-organisasi tersebut.

Organisasi jenis ketiga yakni intra kampus berbasis pemerintahan. Organisasi serupa juga ditemukan pada jenjang SMP dan SMA, yang hanya berupa OSIS. Kondisi organisasi intra kampus lebih mengadopsi lembaga pemerintahan nasional. Terdiri dari HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas (BEMFA) dan universitas (BEM U), Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF), Komisi Pemilihan Fakultas (KPF), dan lain sebagainya.


Jenis organisasi eksekutif kampus mirip dengan badan eksekutif pemerintah. Tingkat HMJ dipimpin oleh ketua HMJ, BEMFA oleh ketua BEMFA, dan BEM U oleh Presiden Mahasiswa. Setiap pemimpin organisasi tersebut dipilih secara demokrasi melalui pemilu raya. Sama persis dengan proses pemilu pada umumnya, saat pemilu raya akan banyak kegiatan kampanye, dialog dan reklame para calon di area dalam kampus.


Gambaran di atas hanyalah sebagian kecil contoh. Apapun jenis organisasi yang nanti kita ikuti pasti membawa banyak manfaat, baik sekadar mengasah bakat minat, mencari teman baru ataupun relasi. Hal yang perlu digarisbawahi, mengikuti  organisasi membutuhkan komitmen yang tinggi, karena harus pandai-pandai membagi waktu untuk bidang akademis maupun bidang organisasi yang kita ikuti.

Yang jelas, saat masuk dunia perguruan tinggi kita akan dihadapkan pada tiga pilihan, yakni hanya menekuni bidang akademis, bidang organisasi, atau bahkan mungkin keduanya. Apapun jalan yang kita pilih akan menjadi cara kita mengabdi pada bangsa. Entah mengabdi melalui bidang akademik yang kita kuasai atau pun mengabdi melalui kebijakan-kebijakan politis saat sudah menjadi wakil rakyat dan politisi.

Demikian, semoga bermanfaat. Apa yang tertulis di atas hanyalah secuil yang saya ketahui dan alami saat masih di perguruan tinggi. Kritik dan saran sangat saya harapkan.

Wednesday, 27 May 2015

TIPS MENJAWAB SOAL PILIHAN GANDA SECARA EFEKTIF DAN EFISIEN


Evaluasi sangat perlu dilakukan dalam pendidikan guna mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap apa yang telah dipelajari. Evaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan tes maupun nontest. kali ini akan sedikit kita bahas mengenai evaluasi dalam bentuk tes. Evaluasi tes dapat berupa tulis dan lisan. Mengingat keterbatasan waktu, para guru umumnya melakukan evaluasi tulis dibanding lisan.

Ternyata terdapat beberapa trik untuk menyiasati soal-soal tulis agar dapat menjawab secara efektif dan efisien. berikut akan kita bahas satu persatu.


  • Menggarisbawahi kata negatif
Dalam aturan standar pembuatan soal, pembuat soal boleh menyisipkan kata negatif dalam sebuah soal.  Umumnya, pembuat soal membedakan kata negatif dalam soal dengan dicetak tebal, garis bawah, atau cetak miring. Namun, ada juga pembuat soal yang tidak membedakan kata negatif dalam soal, sehingga jika siswa kurang teliti, dipastikan akan salah menjawab. untuk mengantisipasi hal itu, selalu garis bawahi kata negatif dalam soal.
Contoh:
1. Berikut yang bukan termasuk dampak pemanasan global adalah ...
a. Tenggelamnya beberapa pulau
b. Kenaikan permukaan air laut
c. Lapisan gletser menyempit
d. Kerusakan hutan
e. Peningkatan intensitas badai

  • Dobel negatif dalam soal
Penggunaan kata negatif dalam soal diperbolehkan. Namun, jika menggunakan dua kata negatif atau lebih sebenarnya tidak dianjurkan dan dilarang dalam aturan standar pembuatan soal. Meskipun demikian, masih tetap ada pembuat soal yang melanggar aturan ini. untuk menyiasati hal itu, jika menemukan dua kata negatif dalam satu kalimat, itu berarti berlaku kebalikannya.
Contoh:
1. Berikut bukan termasuk objek formal geografi, kecuali ...
a. Kelingkungan
b. Litosfer
c. Lapisan air
d. Lapisan cuaca
e. Hidrosfer
  • Dahulukan baca soal dibanding pernyataannya
Dalam sebuah soal, terkadang mencantumkan pernyataan atau pun teks. Untuk menghadapi jenis soal yang demikian, sebaiknya kita baca dulu pertanyaannya, baru kemudian membaca pernyataan. Jika hal itu tidak kita lakukan, biasanya akan memakan banyak waktu, karena harus membaca pernyataan dua kali untuk memeroleh jawaban yang benar.
Contoh:
1.Perhatikan pernyataan berikut:
(1) Pembelokan angin
(2) Pergantian musim
(3)Gerak semu tahunan matahari
(4) Perbedaan waktu
(5) Gerak semu harian matahari
Yang termasuk akibat rotasi bumi ditunjukkan angka ...
a. (1), (2), (3)
b. (2), (3), (5)
c. (1), (3), (5)
d. (3), (4), (5)
e. (1), (4), (5)

  • Opsi bermakna sama maka keduanya salah
Pada soal pilihan ganda, opsi jawaban biasanya sangat menjebak. Memang itu aturan standar pembuatan soal. Opsi sebagai pengecoh harus bersifat homogen. Namun, terkadang pembuat soal mencantumkan opsi jawaban yang memiliki makna sama. Jika hal itu kalian temui, dapat dipastikan bahwa kedua opsi tersebut salah, karena tidak mungkin ada dua jawaban dalam satu soal.
Contoh:
Kata yang dicetak tebal merupakan opsi bermakna sama.
1. Berikut bukan termasuk objek formal geografi, kecuali ...
a. Kelingkungan
b. Litosfer
c. Lapisan air
d. Lapisan cuaca
e. Hidrosfer

Cara-cara di atas dapat diterapkan pada semua jenjang pendidikan (SD,SMP, SMA). Sampaikan pada teman-teman siswa lain dan semoga bermanfaat. Kritik dan saran sangat kami harapkan.


Monday, 25 May 2015

PERTANYAAN TINGKAT TINGGI BANGUN RUANG MATA PELAJARAN MATEMATIKA


Pertanyaan tingkat tinggi dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. (Baca: geografi, seni musik, fisika, dan penjasorkes).  Kali ini akan dibahas sedikit contoh pertanyaan tingkat tinggi mata pelajaran matematika.

Contoh yang akan saya sajikan merupakan hasil unjuk kerja guru lain yang saat itu dipublikasikan di penataran  guru, salah satu bentuk bantuan pembangunan SDM  guru dari lembaga peduli pendidikan Amerika Serikat (USAID). Jenis bantuan semacam ini dirasa sangat bermanfaat karena bantuan pendidikan tidak selalu dalam bentuk finansial.
 
Umumnya guru hanya menuntut siswa menghafal rumus dan menerapkannya dalam menjawab soal. Pada postingan pertanyaan tingkat tinggi fisika, muncul komentar menarik terkait argumentasi yang saya lontarkan.  Salah seorang rekan berpendapat bahwa guru tetap boleh menyajikan soal tingkat rendah untuk mengetahui minat terhadap mata pelajaran.

Minat siswa terhadap mata pelajaran dapat dijadikan salah satu indikator untuk diikutsertakan pada olimpiade mata pelajaran tertentu. Jika siswa memenangkan olimpiade tersebut, bisa jadi nantinya bidang mata pelajaran itu dijadikan pedoman jurusan yang ia pilih di SMA dan bahkan di perguruan tinggi.

Namun menyajikan soal tingkat rendah pada semua siswa bukanlah satu-satunya cara untuk mengidentifikasi minat siswa terhadap mata pelajaran. Cara lain yang dapat ditempuh yakni mengajukan pertanyaan secara lisan saat mengajar. Siswa yang berminat pada mata pelajaran tertentu pasti menjawabnya dengan cepat tepat. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan paradigma yang hafal adalah yang pintar di dunia pendidikan di Indonesia.

Takpanjang lebar lagi, berikut beberapa contoh pertanyaan yang menuntut siswa berpikir tingkat tinggi mata pelajaran matematika materi bangun ruang.

1. Mengapa pihak berwenang lebih memilih bentuk kerucut dibanding tabung untuk pembatas jalan raya?
2. Sebuah kawat sepanjang 2 meter akan dibuat kubus. Berapa jumlah kubus yang mungkin terbentuk dari   kawat tersebut? sertakan panjang rusuk dan sisa kawat (dalam cm)!

Pertanyaan pertama menuntut siswa menilai (evaluasi) keuntungan apa saja yang diperoleh jika membentuk nasi tumpeng berbentuk kerucut dibanding bentuk bangun ruang balok. Pertanyaan no. satu dapat divariasikan dengan benda bentuk kerucut lainnya seperti topi petani dan nasi tumpeng.

Pertanyaan kedua menuntut siswa untuk membuat beberapa kubus dengan panjang rusuk yang berbeda. Hal yang demikian menuntut berpikir kreatif sehingga dapat dikategorikan pada kemampuan berpikir tertinggi (sintesa). Silahkan disampaikan pada teman-teman guru matematika yang lain, dengan harapan pembelajaran berpikir tingkat tinggi dapat mengurangi beban siswa dan meningkatkan kualitas pendidikan dan sumberdaya manusia siswa. Saran dan kritik sangat kami harapkan.

Monday, 18 May 2015

PERTANYAAN TINGKAT TINGGI MATA PELAJARAN GEOGRAFI


Geografi umum dikenal sebagai mata pelajaran yang menuntut siswa untuk menghafal. Setiap materinya selalu identik dengan kegiatan menghafal. Padahal yang demikian sangat tidak sesuai dengan hakikat geografi (baca:Paradigma Hafalan Geografi)

Kemampuan menghafal adalah kemampuan terendah tingkatan berpikir manusia. Oleh karena itu hindari kegiatan menghafal untuk materi yang tidak bermanfaat jangka panjang bagi siswa. Soal hafalan dapat kita ubah menjadi soal yang menuntut siswa berpikir tingkat tinggi.

Berpikir tingkat tinggi minimal menuntut siswa menganalisis atau lebih. Lalu, bagaimana dengan ujian siswa (UAS/UN)? Jika kita menerapkan pertanyaan tingkat tinggi, kemungkinan besar akan bertentangan dengan soal-soal yang diujikan, karena soal-soal ujian umumnya hanya menuntut siswa untuk menghafal.
Sederhana saja, tetap terapkan berpikir tingkat tinggi. Soal-soal ujian dapat disiasati dengan melatih siswa mengerjakan soal-soal ujian tahun sebelumnya. Karena kemungkinan besar soal yang diujikan tahun sekarang mirip dan bahkan terdapat kesamaan. Dengan melakukan hal tersebut, kemampuan berpikir siswa akan meningkat dan di sisi lain tuntutan ujian pun terpenuhi.






Berikut beberapa contoh perbandingan antara soal-soal menuntut menghafal dan berpikir tingkat tinggi.
1. Sebutkan jenis-jenis erosi!
2. Mengapa di kawasan lereng erosi terjadi lebih cepat?
3. Sebutkan jenis sungai menurut sumber airnya!
4. Sesuaikah sungai daerah lereng dimanfaatkan untuk waduk?

Soal no. 1 dan 3 hanya menuntut siswa mengingat materi, sedangkan soal no.2 menuntut siswa mengaitkan (analisa) pengaruh kemiringan lereng terhadap tingkat erosi. Pada contoh no. 4 pun siswa dituntut menilai (evaluasi) kesesuaian pemanfaatan sungai di kawasan hulu.

Geografi yang telah lama mendapat predikat mata pelajaran hafalan dapat memunculkan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir tingkat tinggi, bagaimana dengan mata pelajaran yang lain? Silahkan coba diterapkan!

Seperti biasa pertanyaan no. 2 dan 4 dapat coba dijawab oleh siapapun termasuk siswa. Cantumkan jawaban di kolom komentar. Kritik dan saran sangat kami harapkan. Semoga dapat menginspirasi mata pelajaran lain untuk memunculkan pertanyaan tingkat tinggi dan semoga bermanfaat.

Tuesday, 12 May 2015

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK TEORI JAGAD RAYA KOMPETENSI SINTESA



Teori jagad raya merupakan salah satu materi Geografi yang dipelajari di kelas X. Dalam buku teks teori terkait pembentukan jagad raya tersaji dalam bentuk kalimat. Kondisi itu memungkinkan guru memunculkan kemampuan level tertinggi tingkatan berpikir manusia, yakni mengsintesa. Mengsintesa diartikan sebagai kemampuan mencipta atau menemukan sesuatu.

Nampak sangat tidak mungkin jika guru menuntut peserta didik untuk menemukan atau mencipta sesuatu. Namun dalam bahasa yang lebih sederhana, mengsintesa hanya menuntut siswa sekolah menengah untuk mengkreasi sesuatu. Berikut contoh LKS (sekarang LKPD) Teori jagad raya yang menuntut siswa untuk berpikir tingkat tinggi C6 (Mengkreasi).

Lembar Kerja Siswa Materi Jagad Raya 

LKS di atas dapat dikerjakan secara berkelompok. Dalam satu kelompok maksimal terdiri dari 4 siswa. Berikan waktu maksimal 20 menit pada kelompok untuk menyelesaikan gambar terkait 3 teori pembentukan jagad raya tersebut. 

Secara umum guru akan menjelaskan materi tersebut dalam bentuk tulisan dan gambar yang kemudian disalin dan ditulis oleh peserta didik. Agar kompetensi sintesa dapat dimunculkan, maka guru sebaiknya tidak menggambar teori tersebut sebelum semua kelompok menyelesaikan lembar kerja di atas.

Selain itu, guru juga perlu menekankan dalam menggambar teori-teori pembentukan jagad raya harus mengacu pada teori yang ada dan benar-benar tidak menyontek milik teman lain ataupun melihat dari sumber-sumber terkait. Karena saat mereka melakukan hal itu, dapat dipastikan tuntutan kemampuan yang awalnya sintesa (C6) akan menurun drastis menjadi kemampuan meniru (C1). Berikut contoh lembar kerja asli yang saya scan hasil peserta didik di sekolah tempat saya mengajar.

Contoh hasil kerja kemampuan sintesa yang mebuktikan bahwa kreativitas seseorang sangat bervariasi

Demikian, semoga dapat diterapkan pada semester ganjil tahun ajaran depan dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik. Mohon kritik saran dan semoga bermanfaat.

Sunday, 10 May 2015

GURU GEOGRAFI PEKA ALAM



Lingkungan sebagai salah satu materi wajib dalam pembelajaran geografi menuntut siswa untuk mampu menjaga dan memelihara lingkungan. Memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Hal-hal kecil pun perlu kita lakukan untuk menjaga lingkungan. Jika guru saja menuntut siswa untuk peka terhadap lingkungan, maka guru pun diharapkan tidak sekadar berteori, tetapi juga harus memberikan contoh nyata bagaimana melestarikan lingkungan mulai dari hal terkecil sekalipun.

Namun, bukan hal itu yang akan kita bahas lebih mendalam terkait kepekaan guru geografi terhadap alam. Peka terhadap alam yang dimaksud disini ialah mampu mengidentifikasi kondisi alam sekitarnya, dan menggunakannya sebagai media pembelajaran geografi.

Masih teringat kuat perkataan salah satu dosen di tempat saya mengenyam ilmu, bahwa guru geografi harus peka terhadap alam. Saat kami (mahasiswa geografi) akan melaksanakan kuliah kerja lapangan yang menempuh jarak cukup jauh, salah satu dosen menghimbau agar saat perjalanan kami tidak hanya tidur. Kami diharapkan mengamati kondisi daerah-daerah yang dilewati. Jika ada hal menarik terkait fenomena alam, sebaiknya dicatat atau bahkan diambil gambarnya.

Geografi adalah studi tentang bumi dan fenomena-fenomena geosfer yang terjadi. Hal itu cukup membuktikan bahwa kebanyakan peristiwa kecil sekalipun, yang terjadi dipermukaan bumi tak terlepas dari geografi. Seseorang akan memakai payung saat turun hujan (determinisme geografi), jumlah penjual jas hujan akan meningkat tajam saat musim hujan (determinisme geografi), seorang anak membuang sambah sembarangan (posibilisme geografi) dan masih banyak contoh lainnya.

Semua yang kita lihat sangat mungkin terkait dengan geografi. Oleh karena itu, akan sangat disayangkan jika terdapat beberapa fenomena di lapangan yang terkait materi geografi berlalu begitu saja. Guru geografi diharapkan peka dalam mengidentifikasi hal-hal yang ditemui di lapangan dan mengabadikannya. Menjadi guru geografi peka alam tidaklah sulit. Alat yang dibutuhkan hanyalah sebuah kamera. Di zaman era informasi seperti sekarang ini, saya yakin kebanyakan orang sudah memiliki ponsel yang memiliki fitur kamera, sehingga syarat tersebut tidaklah terlalu memberatkan.

Lalu bagaimana cara kita melatih kepekaan fenomena yang terkait materi. Coba dan lakukan mulai sekarang. Terkadang akan merasa canggung jika tiba-tiba kita berhenti di jalan dan mengambil gambar dan dilihat banyak orang. Namun, dengan sedikit keberanian, aktivitas kecil tersebut akan sangat bermanfaat bagi siswa-siswa kita sebagai penerus bangsa. Berikut contoh foto yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran geografi.



Pelapisan Batuan litosfer kelas X


Klasifikasi Desa kelas XII

Popular Posts

Recent Posts

Sahabat Pendidikan

Text Widget

Unordered List

Sahabat Pendidikan

Powered by Blogger.